RSS

Hutang dalam berbagai perspektif ekonomi

Hutang dalam berbagai perspektif ekonomi.

Liberalis:
Dalam perspektif liberal, kegiatan ekonomi tidak pernah lepas dari utang-piutang. Perspektif liberal sendiri tidak menganggap utang berokonotasi negative. Kaum liberalis menekankan pemanfaatan SDA yang tersedia dalam jaringan internasional sebagai resep ekonominya. Dengan begitu, berarti kaum liberal menyarankan sebuah Negara agar berani berhutang. Pola utang-piutang juga dinamakan sebagai “kerjasama” atau “bantuan” oleh kaum liberal. Hal tersebut tidak terlepas dari landasan berpikir kaum liberal yang menganggap kegiatan ekonomi sebagai victory sum-game. Dalam berekonomi, menurut kaum liberal, manusia menunjukkan sifat-sifat kooperatif, damai, dan konstruktif. Untuk itu, bukanlah suatu masalah jika mereka saling meminjamkan modal, asalkan dengan cara yang sehat.
Peran Negara terhadap pasar adalah peran sekunder yang tujuannya menjamin prasarana pasar. Dalam menjamin prasarana pasar, suatu Negara wajar saja jika berhutang pada pihak lain. Perspektif liberal juga berpendapat pada kebanyakan kondisi, berhutang lebih menguntungkan disbanding menghindari hutang.

Tokoh Liberal: Adam Smith, David Ricardo, John Maynard Keynes, John Stuart Mill. Dilanjutkan oleh Neoliberal dengan tokohnya antara lain Milton Friedman dan Frederich Von Hayek.

Merkatilis:

Berbeda dengan liberalisme, merkantilisme lebih melihat kecenderungan konfliktual dalam kegiatan ekonomi internasional. Untuk itu pasar tidak dapat dibiarkan berjalan sendirian. Pasar harus diatur oleh Negara agar dapat berjalan optimal. Perbedaan antara strukturalis dengan merkantilis adalah tujuan intervensi pasara. Jika strukturalis mengintervensi pasar agar tercipta distribusi sumber daya yang lebih adil dan merata , merkantilis mengintervensi pasar justru agar keuntungan dapat dimaksimalkan dan kemudian dapat meningkatkan kapabilitas bertahan Negara yang bersangkutan.
Dalam menyoal permasalahan hutang, merkantilisme tidak mengharamhkan hutang. Hutang dalam perspektif merkantilis bukan pelanggaran fundamental, asalakan hutang tersebut dimanfaatkan secara optimal untuk membangun kekuatan Negara. Namun lebih lanjut, hutang menurut merkantilisme lebih baik dihindari. Hal tersebut karena hutang dapat membahayakan kapabilitas bertahan suatu Negara. Disadarinya oleh kaum merkantilis bahwa ekonomi berkesinambungan dengan politik membuat merewka berpikir dua kali untuk melakukan pinjaman.

Tokoh Merkantilis:Alexander Hamilton, Fredrich List, Robert Giplin

Strukturalis:


Persamaan antara srukturalis dan merkantilis adalah keduanya bersepakat untuk mengintervensi pasar, berlawanan dengan liberalis. Namun sekali lagi, tujuannya berbeda. Kaum strukturalis yang mempunyai sebuatan lain seperti Marxis, Komunis, Revolusioner, atau Sosialis bertujuan menciptakan distribusi sumber daya yang lebih merata. Kaum strukturalis memandang adanya pertentangan antar-kelas didalam pasar. Kelas buruh akhirnya menjadi pihak yang paling dirugikan. Strukturalis berpendapat bahwa imperialisme internasional tidak terlepas dari penindasan dalam Negara.
Menurut strukturalis, utang adalah suatu instrument imperialisme Negara-negara kaya. Utang oleh Negara-negara maju sering ditawarkan pada Negara berkembang. Negara maju kemudian mendoktrin Negara berkembang bahwa berhutang itu baik seperti konsep liberal. Padahal, menurut kaum strukturalis, hutang tersebut sengaja ditawarkan kepada Negara berkembang agar kegiatan ekonomi Negara berkembang menjadi ketergantungan dengan Negara maju. Seperti dalam teori dependencia. Dengan begitu, Negara maju dapat lebih leluasa memainkan tangan serakahnya didalam Negara berkembang. Walhasil, Negara kaya makin kaya, Negara miskin makin miskin karena utang. Pada intinya, strukturalis menganggap utang sebagai barang najis.

Tokos strukturalis: Karl Marx, Engles, Illyich Lenin, Rosa Luxemburg, Wallerstein, Theotonio Dos Santos, Andre Gunder Frank, Raul Prebisch

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: